Showing posts with label Pohon-Pohon. Show all posts
Showing posts with label Pohon-Pohon. Show all posts

Wednesday, July 27, 2011

Menye-Menye

Lagi galau bin menye-menye, ini soal kisah cinta... *ahing!*

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat seseorang di masa lampau, yang mana sebenernya kami nggak pernah jadian, cuma sekedar dekat. Namun saya selalu ingat sama orang ini.
Baiknya, kita sebut dia si S.

S dikenalkan ke saya oleh salah seorang teman satu kos, sekitar tahun 97an deh, saya baru beberapa bulanlah di Bandung. Yaoli... udin lama aje yaaa... S langsung menunjukkan bahwa dia menaruh perhatian pada saya yang masih gegar budaya :)) ya gimana yah... belum pernah nge-kos, baru lulus SMA, tiba-tiba terdampar di Bandung, sendirian... Saya langsung sibuk mengeksplorasi setiap sudut kota, bergaul sebanyak-banyaknya, pergi ke disko *embyeeer... belum kenal dugem bok! diskoooo!* setiap malam, ngeceng setiap hari. Saya asyik sendiri.

Monday, January 24, 2011

Tujuhbelas: Kepada Pengembara Mimpi

Kepada Tuan,

Pengembara Mimpi, telah lama kamu tak datang ketika waktu beranjak pagi. Aku sudah menantikanmu untuk bercerita soal pohon-pohon, seperti yang pernah kau janjikan.
Mengembara ke mana saja kamu, wahai Pengembara Mimpi? Tidakkah kau ingat, kau pernah berjanji untuk sering-sering mampir?

Aku ingin bertemu denganmu. Tidak, ini bukan rindu yang menggebu-gebu, ini hanya rasa penasaran.
Karena tak bisa kutunggu lebih lama lagi kedatanganmu, kutuliskan saja apa yang ingin kutanyakan.

Pengembara Mimpi, kamu yang mengenal Pohon-Pohon sejak awal mula mereka ada. Kamu telah melewati ruang waktu bersama mereka. Selain dengan Pohon-Pohon, apakah kamu mengenal Sang Penguasa Waktu?
Pernahkah kamu bertemu denganNya? Bercakap-cakap tentang apa saja, bercanda atau bahkan meminta pertolongan dariNya?
Seperti apa Sang Penguasa Waktu itu? Ia yang memutar waktu begitu cepatnya, sehingga aku tak menyadari aku telah sampai pada tahun ke 31 dalam hidupku, hari ini.
Apakah Sang Penguasa Waktu mengingat waktuku? Bisakah kau tanyakan itu padaNya, wahai Pengembara Mimpi? Dan bisakah juga, kau sampaikan padaNya, janganlah terlalu cepat memutar waktu hingga tak kusadari pergerakannya. Apakah Pohon-Pohon menyadari pergerakan waktu? Apakah Pohon-Pohon juga punya hitungan umur? Seperti aku yang selalu diukur dengan umurku.

Pengembara Mimpi, kunjungilah aku nanti, sesaat sebelum fajar datang. Hiburlah aku yang telah menginjak usia 31 tahun ini dan selalu diukur dengan angka itu. Hiburlah aku dengan cerita Pohon-Pohon dan terutama, kunjungi aku karena kamu telah menyampaikan tanyaku pada Sang Penguasa Waktu.

Pengembara Mimpi, datang ya... kutunggu kamu.

Salamku.

Note: Selamat Ulang Tahun buat diriku! :)) ya, saya berumur 31 tahun hari ini. Apa? Tua? Ih... lo aja kali yang tuaaa... :)) Jadi karena saya lagi ulang tahun, boleh dong, hari ini nggak ngikut tema: kirim surat buat seleb / org terkenal di twitter?! hahaha 

Thursday, December 23, 2010

Kunang-Kunang

Setelah sekian lama tak mampir, Pengembara Mimpi mengunjungiku, “kemana saja, kamu?” protesku, “aku menunggu janjimu untuk bercerita soal pohon-pohon”
Pengembara Mimpi tersenyum meminta maaf, “aku harus merawat kunang-kunang, maafkan aku…”
“Kunang-kunang?”
Kamu belum pernah mendengar cerita soal kunang-kunang, katanya lagi. Kali ini dengan senyum mengejek. 
Kutahan diriku untuk tak menjawabnya, aku sudah belajar untuk menutup mulutku.
Kunang-kunang, hidup di pohon cinta. Sepanjang malam berkelip-kelip memberi cahaya juga warna yang dipantulkan oleh daun-daun pohon cinta.
Cantik, indah. Sayangnya, kunang-kunang hanya hidup sepanjang malam itu saja. Bercinta, bereproduksi lalu mati, dalam satu malam.

Monday, October 25, 2010

Cerita Pengembara Mimpi

Pengembara mimpi yang datang saat hari beranjak pagi, membawa cerita mengenai pohon-pohon.


“Suatu ketika, saat hanya ada pohon di kehidupan ini,” katanya memulai cerita, “belum ada dia, juga kamu.”


Saat itu, belum ada kata-kata untuk bercerita soal rindu, daun hanya bergemerisik untuk menyampaikan kelelahan hati akibat menunggu yang tercinta.
Dahan melambai untuk bercerita mengenai gundah.


Belum ada kata-kata, karena kata-kata memang lebih tak bermakna dibandingkan gemerisik riuh daun, lambaian gundah sang dahan, juga helaian daun yang melayang jatuh ke tanah dengan putus asa.