Wednesday, November 10, 2010

Hidup Segan, Mati Pun Tak Mau

Kemaren akhirnya ketemu sama teman lama yang dulunya sama-sama nge-buruh di pabrik yang sama. Ngobrolin panjang lebar soal industri tekstil yang pernah (dan masih) menghidupi kami. Saya bilang sama dia, sebenarnya saya sudah ingin keluar saja dari label pekerja tekstil ataupun berusaha hidup dari tekstil, tapi apa daya, ya ternyata saya bisanya cuma itu-itu saja :)) dan setelah mencoba keluar jalur, eh, ujung-ujungnya kan balik lagi...


Industri tekstil di Indonesia, sebenarnya sangat besar. Namun sayangnya, sedang sekarat. Haduh, sekarat kok terus-terusan ya... Ditungguin matinya, tapi gak mati-mati, dan gak mau mati juga sih... nanti kami makan apa? :D


Trus kali ini, apa lagi sih yang 'menghantam' industri tekstil?


Harga bahan baku yang mahalnya gila-gilaan! Kalaupun ada yang bisa jual, nggak ada barangnya. Seumur-umur saya kerja di industri ini, saya belum pernah mengalami 'kegilaan' harga semacam ini. Bayangkan, harga kapas mentah saja hampir 2x dari harga biasa, itu pun orang berebut. Buruknya, alternatif lain macam serat buatan juga rayon, ikut-ikutan menempel ketat di belakangnya.


Lho, harga baju berarti akan naik juga dong... belum tentu, karena yang beredar di pasaran sekarang kan masih stok lama, 'kegilaan' retail baru akan mulai 3-6 bulan mendatang, itu kalau keadaan di industrinya bisa diredam. Kalau tidak... ya bisa muntab. Bagus lagi, kalau penanganannya bisa menghalangi dampak harga di pasaran.


Solusinya? Gak tau!
Karena masalahnya juga nggak tahu. Tiba-tiba saja terjadi kelangkaan dan harga yang melambung tinggi. Awal mulanya, Pakistan yang terkena badai sehingga tidak bisa memanen kapas, kemudian India menyimpan stok-nya karena takut pasokan bahan mentah akan menurun. Kemudian Cina menumpuk stok dan mengambil semua stok kapas yang ada. Kemudian, Brasil juga ikut-ikutan menyimpan stok. Panik. Ya iya, panik, karena di pasaran hanya ada kapas dari Amerika (yang kebetulan lagi panen raya) dan Australia. Jelas nggak cukup itu untuk supply dunia.
Bagaimana dengan kapas Indonesia? Kita tidak punya lahan kapas. Salah satu produsen denim terbesar di Indonesia, beberapa waktu lalu pernah mencoba menanam kapas di Sulawesi. Hasilnya bagus, dan setara dengan ANDY-Australia, sayangnya, birokrasi & regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah kita memakan biaya, kapas ini jadi tidak punya nilai ekonomi lagi karena mahal. Rugi.


Aduh... masalah birokrasi dan regulasi ini memang bikin meradang.


Ingat rencana DPR untuk membuat UU baru mengenai penurunan gaji buruh yang dianggap membuat ongkos produksi jadi mahal? Nah... itu bikin saya ngamuk berhari-hari (bahkan sampai sekarang). Bayangkan, ongkos buruh itu nggak ada apa-apanya dibandingkan biaya untuk administrasi untuk mematuhi birokrasi dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.


Di mana-mana, yang namanya pengusaha ya nggak mau rugi. Semua elemen yang memakan biaya pasti dimasukkan ke ongkos produksi. Tapi yang jelas, ya bukan ongkos buruh yang bikin ongkos produksi jadi mahal. Jadi jelaslah bahwa wacana untuk mengurangi ongkos buruh itu, tidak menyelesaikan masalah.


Indonesia, memang terkenal sekali ongkos produksinya yang mahal. Belum lagi soal pengembangan produk yang lamban. Sebagai pekerja di industri tekstil, menurut saya, ini bukan masalah SDM-nya, serius nih. Semua orang mengakui, skill orang Indonesia itu bagus. Mau jahitan, celup warna, hasil, bagus. Kemampuan berkomunikasi juga oke. Masalahnya, pengembangan teknologi itu perlu sarana baru, nah.. mau masukin mesin baru aja susahnya minta ampun. Ya gimana mau bikin produk yang baru-baru? Bisanya ya yang standar aja...
Itu baru soal mesin.Sekarang mau berkolaborasi buat bikin mesin baru, atau produk baru ya podo ae sami mawon.. lintas industri, susah.


Nah, trus ada pertanyaan, kenapa nggak bekerja sama dengan desainer, buat satu produk lempar ke pasar. Percayalah, kami juga sudah melakukannya. Masalahnya satu, biaya.
Sebagai produsen, pabrik tidak bisa menerima order kecil. Contoh, kain yah... nah, untuk kain, ongkos produksi 100 meter kain dengan 1000 meter kain, itu sama saja. Alhasil, 100 meter kain jatuhnya lebih mahal daripada 1000 meter. Sementara, desainer, belum mampu untuk membeli 1000 meter kain, 100 meter kain aja ngos-ngosan buat mereka. Akhirnya, desainer balik lagi ke Tanah Abang. Lho, ini kenapa Tanah Abang bisa jual? Ya iyalaah... bisa, mereka kan ada distributor yang nalangin, trus dipecah-pecah ordernya.
Pabrik gak bisa nalangin? Ya berat... kecuali, mau ambil sisa-sisa produksi aja.
Padahal nih ya, sebenarnya sudah ada teknologi baru yang memungkinkan pabrik memproduksi kain dalam jumlah kecil, misalnya kain print, hanya sayangnya, mesinnya mahal dan susah aja mau masukin. Belum-belum, investasi sudah selangit, sementara daya beli rendah. Ribet.


Aduh jadi ngelantur ke mana-mana.


Intinya ye... gak usah deh kayak pemerintah Cina yang support banget ke industri, mulai dari regulasi sampai pendanaan, belum lagi perlindungan soal perdagangan bebas. Kadang, kita cuma perlu peraturan yang gak ribet, dan birokrasi yang dipangkas aja gak didengerin. Kalau bisa ribet, ngapain dibikin gampang?


Kasihan ya kitaa....

No comments: