Saturday, July 23, 2011

Perjalanan

enswei-swei endesbrai sebrai: saya lagi beberes file di komputer, dan menemukan satu cerita yang belum selesai. Cerita ini dibuat berdasarkan gambar yang gambarnya dikirimkan oleh salah seorang teman, mungkin sekitar 1,5thn yang lalu deh. Dan selama itu, saya baru menulis sebagian. Saya ingin sharing di sini, semoga saya bisa menyelesaikannya di lain waktu :D Oh ya, gambarnya tidak saya share di sini, karena saya belum minta ijin pada teman yang mengirimkan. Nanti saya update lagi deh ya.
 
Witri cukup beruntung hari ini, kereta yang ditumpanginya pagi ini tidak terlalu penuh, meski tak mendapat tempat duduk, setidaknya ia bisa mendapat posisi dekat dengan tiang horizontal di dekat pintu, sehingga tangannya tak terlalu pegal berpegangan pada tali yang tergantung di atas kepalanya. 

Hari ini perasaan Witri sedang lumayan baik, karenanya, ia hanya memandang maklum pada beberapa laki-laki yang dengan asyik duduk di dalam kereta yang meski tidak terlalu penuh, namun banyak wanita yang berdiri tak mendapat duduk, para laki-laki itu nampak sama sekali tak risih, duduk santai, bahkan ada dua orang yang dengan gagahnya, membuka kaki mereka lebar-lebar, seolah-olah ingin memamerkan pada dunia bahwa ia mempunyai alat kelamin laki-laki. 

Jika suasana hatinya sedang tak baik, ia akan melontarkan pandangan sadis pada para laki-laki yang tidak menawarkan tempat duduknya pada perempuan yang tidak  mendapatkan tempat duduk.

Mungkin memang sudah tidak jamannya seperti itu, kadang Witri, berusaha menenangkan dirinya sendiri, yang mudah sekali tersulut amarah dalam diam, jika melihat hal-hal yang tak sesuai dengan pikirnya. Mungkin para laki-laki itu juga serba salah kalau ingin menawarkan tempat duduknya pada perempuan yang berdiri, karena bisa jadi malah perempuan yang ditawari tempat duduk malah tersinggung, karena dikira lemah… kami ini perempuan moderen yang kuat dan bisa bersaing dengan baik melawan laki-laki, termasuk urusan berdiri di kereta. Atau yang agak konyol, perempuan yang memiliki berat badan agak berlebih, langsung tersinggung karena menganggap yang menawarinya tempat duduk, menghinanya badan gemuknya… saya memang sedikit montok, tapi saya tidak hamil, apa salahnya perempuan montok? Jangan asal menduga semua orang yang montok hamil, saya ini masih perawan ting-ting.

Yah, mungkin saja begitu. Tapi Witri selalu berharap, baik ketika perasaannya sedang bagus ataupun sedang tidak bagus, ada yang menawarinya tempat duduk. Tindakan sepele itu pasti akan dibalasnya dengan senyum terimakasih yang amat manis. Sayangnya, hingga hampir dua bulan Witri setiap hari berangkat dan pulang kerja, belum pernah ada laki-laki yang menawarkan tempat duduk untuknya, seringkali, ia malah harus berebut tempat duduk dengan para laki-laki itu. Kalau ia yang lebih cepat, maka sudah selayaknya memang laki-laki itu mengalah. Tapi kalau kalah, dengan kegusaran yang dibuat-buat, Witri akan melayangkan pandangan mata yang seolah berkata, kok nggak malu rebutan tempat duduk sama perempuan.

Soal melemparkan pandangan mata dengan sinis, Witri sangat handal. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang judes, pendiam tapi judes. Jarang sekali ia harus beradu mulut dengan orang yang menjadi musuhnya, jika ia tak suka, cukup ia katakan dengan sorot mata sinis yang tajam. Witri memang melatihnya dengan baik, tidak peduli Ibu pernah menasehatinya untuk berusaha meredam sifat judes, galaknya itu, “nanti kamu susah dapat suami kalau galak,” begitu kata Ibu. Semua nasihat Ibu selalu berujung pada suami. Jangan galak, nanti susah dapat suami. Yang pinter di sekolah, biar nanti suami bangga punya isteri pintar. Kalau nyapu yang bersih, supaya dapat suami yang nggak berewokan. Witri sama sekali tak menggubris nasehat Ibu, bukan karena ia tak menghormati Ibu, tapi karena ia mempunyai alasannya sendiri kenapa ia  perlu bersikap galak, meski cuma lewat  pandangan mata.

Witri tidak terlalu percaya pada kata-kata. Makna kata itu tidak selalu sama, tergantung siapa yang menggunakan, dalam suasana apa dan siapa yang mendengarnya. Kata-kata banyak menyimpan makna tersembunyi, dan Witri tidak terlalu pandai dalam hal ini. Katakanlah, Witri memang terlahir dengan kemampuan bahasa yang pas, biasa saja, dan itu membuatnya hanya mampu membuat percakapan pintar di dalam kepalanya, tanpa bisa mengartikulasikannya dengan baik. Sementara itu, Witri percaya, bahwa mata adalah jendela hati. Apa yang ia rasakan, bisa terefleksikan dengan baik dan jujur  lewat pandangan mata. Mata sendu menggoda, mengirimkan sinyal senang duit… itu yang dipelajarinya pertama kali. Meskipun kini, Witri mulai meragukan pernyataan bahwa mata adalah jendela hati, karena setelah berlatih selama bertahun-tahun, Witri bisa menutupi perasaan hatinya dengan memancarkan sinar palsu di matanya. Ia bisa mengatur pandangan matanya seperti kalau orang mengatur gelap terangnya lampu dengan sebuah tombol. Witri punya banyak tombol-tombol imajiner seperti itu di dalam kepalanya. Jika di kereta dan merasa sebal, ia segera mengaktifkan tombol ‘jangan macam-macam denganku atau kamu akan menyesal’ dan menyorotkannya ke orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Jika ia ingin mendapat simpati dari orang di kantor, terutama bosnya, ia akan menekan tombol ‘saya seorang pekerja junior yang gigih berusaha untuk menyelesaikan tugas saya dengan baik meskipun saya merasa kelelahan’. Lima puluh persen dari usahanya ini berhasil dengan baik, sepuluh persen gagal, sisanya ia tidak tahu, karena ia tidak menekan tombol apa-apa di otaknya.
Dan yang sepuluh persen itu, adalah yang dilakukan Witri di kereta, dia belum pernah mendapatkan tempat duduk. Meskipun ia sudah memancarkan sinar ‘ayo beri saya tempat duduk karena saya amat kelelahan’. Mungkin kapasitas sinarnya kurang kuat.

bersambung

No comments: