Saturday, January 08, 2011

Tiga

Dulu, kupikir menikah tidak seperti ini. Iya aku tahu, menikah itu tidak selalu bahagia seperti cerita dongeng begitu, tapi tetap saja kupikir tidak seperti ini.
Kupikir kami akan selalu punya cinta yang bergelora, selalu bisa tertawa bersama dan...bisa bercinta dengan penuh gairah.
Iya, setahun pertama sih begitu, masih bisa cekikikan berdua, punya gairah yang selalu membara. Tahun kedua masihlah...bisa ditoleransi. Tahun ketiga...ya mulai berkurang, tapi yaaaa...begitu masih oke. Tahun keempat, mulai deh, cuek-cuekan. Berantem sih kagak, cuma ya mulai cuek, jarang cekikikan berdua lagi, karena Chandra mulai sibuk sekolah lagi. Dia mau jadi profesor katanya. Yaoloh...jangan terlalu pinter 'napa? Aku kan jadi makin minder. Tahun kelima, Chandra makin sibuk. Dia rasanya lebih lama menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah bersamaku. Ketemu bisa jadi hanya dua hari dalam seminggu, itupun tak lebih dari sejam, dan malah nggak tidur bareng. Seks? Halah, boro-boro. 

Aku mau protes tapi tak bisa, karena aku tahu, Chandra memang benar-benar sibuk, aku juga tak tega membebani pikirannya dengan gerutuanku, toh dia sekarang sibuk demi masa depan kami berdua. Jadi kutekan saja rasa sepiku. Aku rindu Chandra yang dulu, yang dahinya tidak berkerut karena selalu berpikir. Ia yang selalu punya celetukan garing atau gerakan konyol untuk membuatku terkikik. Aku rindu suamiku.
Kupikir-pikir, mungkin kalau kami punya anak, aku tidak terlalu kesepian seperti ini. Ah, anak. Aku sedikit sedih juga kalau ingat hal itu, tapi tidak juga. Lima tahun menikah, kami memang belum punya anak. Sejak tahun pertama kami menikah, semua orang di keluarga ribut supaya kami segera mempunyai anak. Chandra dan aku, terlalu santai menanggapi itu semua. Kami tidak menunda ataupun panik untuk segera punya anak. Memasuki tahun ke tiga, kami baru mulai berpikir untuk mencari tahu kenapa kami belum juga mempunyai anak. Tidak ada yang salah, aku sehat dan Chandra sehat. Memang kami belum punya aja. Keluarga yang tadinya ribut mulai menampakkan muka kasihan setiap bertemu kami. Untungnya, Chandra juga aku, tidak terlalu sakit hati. Kami percaya, tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu disalahkan juga dan yang bisa kami lakukan, cuma menunggu...ya sambil berusaha dong.
Aku tidak terlalu sedih. Tapi sekarang, aku sedih. Aku kesepian.
Tapi, kupikir-pikir juga, kasihan anakku, kalau seandainya ada, cuma pengobat rasa sepi... Ya kasihan dia, kalau cuma jadi hiburan hatiku.
Lagipula, aku sebenarnya takut punya anak. Aku mau. Sangat mau. Tapi takut.

No comments: